Kata ibu, ku terlalu romantis
Katanya "Kau hidup dalam mimpi"
Aku nyaris percaya dia
Lalu aku bertemu denganmu, dan aku sadar
Mungkin karena aku semakin dewasa
Mungkin karena aku makan asam garam
Aku suka bayangkan jika itu caramu bersandar di bahuku
Dan bagaimana kulihat diriku bersamamu
Ku tak ucap sepatah katapun
Namun tetap saja kau ambil napasku dan curi segala yang kutahu
Disitulah kau, menyelamatkanku dari kerumunan
Api berapi, biasanya kitalah pembunuh
Dengan keinginan kuat, bersama, kitalah pemenang
Mereka sebut kita gila, sisanya sebut kita pendosa
Tapi jangan biarkan mereka rusak ritme indah ini
Karena saat kau buka diriku dan katakan cinta
Dan menatap mataku
Kaulah kesempurnaan, satu-satunya arah tujuan
Inilah api berapi, mm
Inilah api berapi
Saat kita bertarung, kita bertarung layaknya singa
Namun saat kita mencinta dan merasakan kebenaran
Kita kehilangan akal di kota penuh mawar
Kita takkan tunduk pada hukum apapun
Ku tak ucap sepatah katapun
Namun tetap saja kau ambil napasku dan curi segala yang kutahu
Disitulah kau, menyelamatkanku dari kerumunan
Api berapi, biasanya kitalah pembunuh
Dengan keinginan kuat, bersama, kitalah pemenang
Mereka sebut kita gila, sisanya sebut kita pendosa
Tapi jangan biarkan mereka rusak ritme indah ini
Karena saat kau buka diriku dan katakan cinta
Dan menatap mataku
Kaulah kesempurnaan, satu-satunya arah tujuan
Inilah api berapi, oh
Inilah api berapi
Api berapi, biasanya kitalah pembunuh
Dengan keinginan kuat, bersama, kitalah pemenang
Mereka sebut kita gila, sisanya sebut kita pendosa
Tapi jangan biarkan mereka rusak ritme indah ini
Api berapi, biasanya kitalah pembunuh
Dengan keinginan kuat, bersama, kitalah pemenang
Mereka sebut kita gila, sisanya sebut kita pendosa
Tapi jangan biarkan mereka rusak ritme indah ini
Karena saat kau buka diriku dan katakan cinta
Dan menatap mataku
Kaulah kesempurnaan, satu-satunya arah tujuan
Inilah api berapi
Kaulah kesempurnaan, satu-satunya arah tujuan
Inilah api berapi